Dahsyatnya Ukhuwah Islamiyah
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyebutkan: “Allah SWT
menyempitkan bagiku bumi ini dan aku lihat ujung barat dan ujung timur. Dan
pada kedua ujung itu saya melihat umatku”.
Ungkapan baginda Rasul itu harusnya menjadi satu pembuktian
nubuwah. Sesuatu yang diucapkan di abad ke 7, tapi di abad 21 saat ini menjadi
sesuatu yang nyata di hadapan mata. Umat Rasul itu ada di mana-mana; timur dan
barat, utara dan selatan bumi ini. Umatnya menjadi komunitas dunia yang paling
universal.
Tabiat universalitas umat itu dengan berbagai ragam
perbedaan yang ada ternyata disatukan oleh satu titik atau akar. Kesatuan umat
itu disatukan oleh akar imannya. Apapun keadaan akar iman itu selama masih
hidup akan terikat oleh “wihdah imaniyah” atau kesatuan iman itu.
Ukhuwah di mata Allah
Salah seorang ahli fiqh di kalangan thobiin adalah Abu Idris
Al-Khawalani. Beliau ini sekaligus menjadi Qadhi Damaskus ketika itu. Beliau
menceritakan bahwa di saat-saat awal mencari ilmu di masa mudanya beliau pergi
ke masjid Damaskus yang terkenal. Di masjid ini masih ditemui beberapa sahabat
yang masih sempat hidup dan dekat dengan Rasulullah SAW.
Beliau menuturkan: “ketika pertama kali saya masuk ke dalam
masjid itu saya melihat seorang anak muda yang dikelilingi banyak orang,
kata-katanya didengar dan sangat dihormati. Saya pun bertanya siapa gerangan anak
muda itu. Salah seorang jamaah memberitahu bahwa anak muda itu adalah Abu Muadz
bin Jabal.
Saya pun bertekad bertemu dengannya dan menjabat tangannya.
Keesokan harinya saya ingin datang ke masjid lebih awal untuk menunggunya.
Namun begitu saya masuk, anak muda itu telah berada di masjid untuk sholat
tahajjud.
Sayapun tunggu hingga selesai sholat, lalu saya mendekat dan
mengatakan: “Saya mencintaimu karena Allah”. Muadz menarik saya dan bertanya:
“demi Allah engkau cinta saya”? Saya jawab: “demi Allah saya cinta engkau”.
Muadz kemudian memberitahukan kepadanya sebuah berita
gembira dari Rasulullah SAW: “ada sekelompok orang di hari kiamat nanti, para
syuhada, shiddiqin, bahkan para nabi sekalipun akan irihati kepada mereka.
Mereka ada duduk di atas sebuah mimbar yang terbuat dari cahaya. Mereka itu
adalah orang-orang yang mencintai karena Allah”.
Mendengarkan hadits itu langsung dari Muadz yang dikenal
sebagai sahabat yang sangat ahli dalam ilmu fiqh, Abu Idris melompat kegirangan
dan berlari keluar mesjid ingin memberi tahu kepada semua orang tentang hadits
itu. Tiba-tiba dia ketemu lagi dengan sahabat lain berbama As-Somit Ibnu
Obadah. Diapun dengan gembira menyampaikan apa yang baru didengarnya dari Muadz
bin Jabal RA.
As-Somit Ibnu Ubadah RA mengajaknya mendekat lalu
mengatakan: bahwa Rasulullah SAW meriwayatkan dari Allah (hadits Qudsi) mengatakan:
“menjadi kewajibanku, menjadi kewajibanku, menjadi kewajibanku untuk mencintai
siapa yang saling mecintai karena Aku” kata Allah dalam hadits Qudsi.
Mendengar itu dari As-Somit Ibnu Ubadah, Abu Idris menjadi
girang luar biasa. Dalam satu majelis dan masa beliau mendapatkan dua hadits
yang sangat luar biasa dari dua sahabat nabi yang juga sangat luar biasa
tentang keutamaan saling menyayangi karena Allah SWT.
Ikatan yang sangat solid
Ikatan ukhuwah itu adalah ikatan antar manusia yang paling
solid. Soliditas ukhuwah itu karena memang dasarnya adalah iman yang terhunjam
dalam hati (ashluha tsabutun), tidak tergoyahkan oleh apapun selama masih
tertanam. Yang akan mencabut ikatan ukhuwah itu hanya satu. Di saat iman dari
salah satunya juga telah tercabut hubungan. Itulah sebabnya Nuh AS ditegur oleh
Allah karena sedih berlebihan, sekaigus berharap anaknya diselamatkan. Padahal
iman telah tercabut dari hati sang anak.
Dalam Al-Quran kata ukhuwah disebutkan beberapa kali.
Walaupun semua persaudaraan dikategorikan ukhuwah, termasuk ukhuwah damawiyah
(hubungan darah), ukhuwah qabaliyah (hubungan etnis dan ras), bahkan juga
ukhuwah wathoniyah dan basyariyah (hubungan sesama negara dan sesama manusia).
Akan tetapi kata “ukhuwah” memang lebih kental nuansa ikatan imaniyahnya.
Ukhuwah imaniyah atau Islamiyah ini sangat solid sehingga
tidak terputus oleh kemarahan dan permusuhan apapun. Sekali lagi selama iman
masing mengakar di hati masing-masing.
Perhatikan bagaimana Allah menggambarkan kekuatan ukhuwah
yang tidak tergoncang oleh kesalahan kemanusiaan apapun.
Pertama, hubungan antara anak yatim dan orang tua asuhnya.
Al-Quran menggaris bawahi bahwa anak yatim walaupun mereka kamu asuh, pelihara,
dan bahkan ongkosi semua hidupnya jangan semena-mena. Mereka juga adalah
saudaramu dalam agama (fa ikhwanukum fid diin). Artinya perlakukan mereka dan
harta miliknya bagaikan memperlakukan saudara sendiri.
Kedua, di Surah Al-Hujurat Allah menggambarkan dua kelompok
Muslim yang saling berperang. Allah mengingatkan agar mereka didamaikan
(ishlaah) di antara mereka. Menakjubkan bahwa setelah itu Allah tetap
menggunakan kata-kata: “innamal mu’minuuna ikhwah” (sesungguhnya orang-orang
beriman itu bersaudara). Walau mereka saling berperang, tapi kedua pihak masih
memilki iman di dadanya, mereka tetap dikategorikan sebagai “ikhwah”
(bersaudara).
Ketiga, pada ayat yang sama Allah menggambarkan bagaimana
sikap sebagian mukmin kepada sebagian yang lain. Salah satunya adanya
kecenderungan membicarakan tentang sesama Muslim dari belakang. Walaupun
pembicaraan itu benar, tapi dibicarakan ke orang lain untuk sekedar
disebarluaskan maka itu adalah dosa besar. Dosa seperti ini dalam Al-Quran
dikenal dengan dosa “ghibah” (backbite). Allah menggambarkan dosa ini begitu
sangat menjijikkan karena bagaikan memakan bangka daging bangkai saudara kita
yang telah mati. Tapi yang menakjubkan lagi, Allah tetap memakai kata “apakah
ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati”?
Keempat, sesuatu yang paling pedih dalam hidup seseorang
adalah ketika anak, isteri/suami, atau seseorang yang sangat dicintainya
dibunuh oleh seseorang. Penetapan hukum qishas dalam Islam sejalan dengan ruh
keadilan bagi keluarga yang terbunuh. Tapi Islam tetap membuka pintu maaf. Dan
jika kekuarga yang terbunuh memaafkan maka ada pengganti qishas yang disebut
“diyat” (penebus darah). Di sini juga mengagumkan Allah masih memakai kata
“faman ufiya lahu min akhiihi fattibaa’un bil ma’ruf”. Kata akhihi masih
melekat bahkan kepada pembunuh yang membunuh anak, ayah, atau isteri yang
sangat dicintai itu.
Lalu kenapa begitu mudah ukhuwah bercerai berai saat ini?
(Bersambung).
* Presiden Nusantara Foundation

Post a Comment